hii semuanya…….. ^________^!
hhehee………ternyata………postingan blogs-ku yg kemaren………banyak yg nanggapi juga ;p
dari yg ga ngerti…….kecewa……marah2…….ngedukung…..sampe yang binun….hehe…..
it’s okay……semuanya pny pendapat masing2 ^_____^@
nahh…..skrg sambungannya yahh……..ini diambil dr bbrp sumber……;p
ohh yahh bwt Vira……thx bwt perhatiannya ;p…….thx so much……bwt de2 juga……^^!
okeeeee………..here we goo………..
I. Apa yang dimaksud dengan Gereja?
Kalau kita mendengar kata Gereja barangkali yang
langsung ada di pikiran kita adalah sebuah bangunan yang di atasnya
ada salib. Atau barangkali kita terpikir akan segala aktivitasnya,
fasilitas yang dimiliki, atau bahkan mungkin keadaan administrasinya
yang hebat. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan Gereja? Kata
"Gereja" diterjemahkan dari bahasa Yunani "ekklesia" atau bahasa
Ibrani "qahal" (kumpulan). Ekklesia berasal dari kata "ek" (keluar)
dan "kaleo" (memanggil), sehingga ekklesia berarti
"memanggil/dipanggil keluar". Artinya sekelompok (kumpulan) umat Allah
yang dipanggil ke luar dari dunia ini. Sebagaimana rasul Petrus
menegaskan: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang
besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada
terangNya yang ajaib (band. 1Pet.2:9b). Di dalam Injil Sinoptik
(Matius, Markus dan Lukas), kata ekklesia hanya muncul dalam Injil
Matius, dan hanya terdapat dua kali, yaitu pada Mat.16:18 dan
Mat.18:17-18. Karena itu, sebagian ahli mencurigai istilah tersebut
asli berasal dari Tuhan Yesus. Mereka menganggapnya sebagai tambahan
atau ditambahkan kemudian oleh murid-murid. Namun demikian, tuduhan
tersebut tidak meyakinkan. Sebagaimana Guthrie menulis, "Tidak ada
alasan yang meyakinkan untuk menyangkal bahwa ucapan tentang ekklesia
tersebut adalah otentik.[2]
Injil Yohanes tidak menyinggung secara langsung
mengenai jemaat atau Gereja. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa
dalam Injil ini tidak ada ide tentang Gereja. Johan Ferreira yang
telah meneliti hal ini secara khusus dalam disertasinya yang berjudul
Johannine Ecclesiology menegaskan, "The subject of Johannine
ecclesiology covers a large area of Johannine scholarship".[3]
Selanjutnya, dalam penelitiannya terhadap Yoh.17, dia menulis,
"Ecclesiological concerns occupy a prominent place throughout the
prayer…from the beginning the prayer is concerned with the Johannine
community, that is, those who belong to the Son".[4]
Yohanes memberi istilah lain yang mengandung makna Gereja, yaitu:
a. Konsep kawanan domba (Yoh.10)
b. Konsep pokok anggur (Yoh.15)
c. Konsep kesatuan umat (Yoh.17:22)
Di pihak lain, menurut rasul Paulus, ada dua macam pengertian Gereja.
Pertama adalah Gereja yang tidak kelihatan atau invisible church, atau
Gereja universal. Yang termasuk dalam Gereja ini adalah semua orang
yang telah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan
JuruselamatNya (Baca Efesus 1:22 dan Kol.1:18). Kedua adalah Gereja
yang kelihatan atau visible church, atau disebut juga Gereja lokal.
Sebagai contoh: HKBP, GKI, GPIB, GKJ, dll (Baca 1Kor.1:2 dan
2Kor.1:1). Catatan, untuk selanjutnya Gereja Lokal cukup disebut
dengan Gereja.
Bagaimanakah Perjanjian Baru mengerti Gereja?
1. Gereja adalah umat Allah (lihat 1Pet.2:9.
Bandingkan dengan Ulangan 9:10;10:4.
2. Gereja adalah komunitas Mesianis (lihat
Luk.12:32; Mat.16:18; Mat.28:20.
3. Gereja adalah tubuh Kristus (lihat Efesus 1:22-23)
4. Gereja sebagai persekutuan Roh (lihat Kis.1:4; 5:32)
Sebagaimana telah disebutkan di atas, ada orang yang bersikap menolak
gereja karena beranggapan bahwa persekutuan sudah cukup. Salah satu
alasan yang diberikan adalah, "Kita adalah gereja yang sesungguhnya,
karena kita adalah kumpulan orang-orang yang telah percaya dan
menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita tidak harus ke
gereja, karena di mana pun kita berkumpul, itu sama dengan gereja.
Gereja bukanlah gedung atau bangunannya. Kelompok ini kadang2 mengutip
pernyataan Tuhan Yesus, "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam
namaKu, di situ Aku ada di tengah2 mereka" (Mat.18.20).
Benarkah sikap yang demikian? Marilah kita melihat
sikap Tuhan Yesus dan rasul-rasul terhadap Gereja. Sebenarnya, Yesus
adalah yang pertama menggunakan istilah Gereja. Sebagai contoh,
setelah rasul Petrus mengakui siapa Yesus, Tuhan Yesus bersabda
padanya, "You are Peter, and on this rock I will build my church"
(Mat.16.18). Jika kita melihat konteks ayat ini sebagai mengacu kepada
Gereja universal, maka pada ayat berikutnya, kita melihat dengan
jelas, bahwa Yesus mengacu kepada Gereja lokal. "If he refuses to
listen to them, tell it to the church…". (Mat.18.17) Melalui ayat
tersebut kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengakui pemerintahan atau
otoritas Gereja lokal. Bahkan dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa
selama hidupNya, Tuhan Yesus biasa memasuki synagoge, yaitu ‘Gereja’
pada saat itu (lihat Luk.4.16). Demikian juga dengan rasul-rasul,
mereka menerima Gereja lokal sebagai bagian penting dari pelayanan
mereka. Dalam Kisah Rasul, Paulus tidak hanya memberitakan Injil dan
menjadikan mereka bertobat, tetapi ia juga mengatur mereka ke dalam
Gereja (lihat Kis.14.23). Dalam banyak pasal, rasul Paulus memberikan
contoh melalui ketaatannya terhadap kekuasaan pemimpin2 Gerejanya di
Antiokhia. Dia dipercayakan oleh mereka dengan meletakkan tangan
ketika ia memulai pelayanan missinya (lihat Kis.13;5). Kemudian, ia
melaporkan hasil-hasil pelayanannya ke Gerejanya. "And when they
arrived, they gathered the church together and declared all tha God
had done with them…(Acts 14.27; lihat juga Kis.18.22).
Rasul Paulus menunjukkan ketergantungan jemaat yang
begitu mutlak dengan Kristus. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai
ilustrasi yang menggambarkan hubungan Gereja denganNya.
1. Jemaat sebagai tubuhNya (Ef.1.22-23; 4.12
2. Jemaat sebagai pengantin perempuan (2Kor.11.2)
3. Jemaat sebagai bangunan (1Kor.3.9;6.19)
Kehadiran Gereja Tuhan di dunia ini, serta perjalanan dan
pertumbuhannya, yang tetap bertahan sekalipun melalui dan menghadapi
berbagai tantangan dari abad ke abad adalah merupakan suatu misteri.
Di sini terlihat misteri pemeliharaan Allah. Walau bagaimanapun Gereja
akan tetap hadir di dunia ini sebagai organisme anak-anak Allah. Di
sinilah mereka secara bersama-sama beribadah menyembah Allah. Di
sinilah umat belajar mengenal dan menerima serta mengasihi satu dengan
yang lain dengan kasih Allah (band.Yoh.13.34-35). Di dalam dan melalui
Gereja, Allah menyatakan kasih dan karyaNya kepada dunia. Sebagaimana
rasul Paulus menulis, "Kepadaku yang paling hina di antara segala
orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan
kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga
itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia
yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan
segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat (church) diberitahukan
pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah- pemerintah dan
penguasa-penguasa di Surga (Ef.3.8-10). Apakah hikmat Allah yang harus
diberitakan oleh Gereja kepada dunia ini? Hikmat Allah itu, tidak lain
adalah Injil, yaitu kabar baik bagi dunia. Tugas utama Gereja untuk
dunia telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus pada detik-detik terakhir
sebelum Yesus naik ke Surga. Dia memerintahkan, "Pergilah ke
seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk" (Mark.16.15).
Alkitab menunjukkan bahwa tugas pemberitaan Injil harus menempati
prioritas utama dalam kehidupan Gereja. Karena itu, segala dana dan
daya sudah sepatutnya dikonsenterasikan untuk tugas ini. Tugas ini
bukan milik orang tertentu saja seperti pendeta, penginjil dan majelis
Gereja, akan tetapi semua orang yang telah percaya harus terlibat
dalam tugas penginjilan memberitakan kabar baik, yaitu pengampunan dan
keselamatan bagi orang berdosa.
II. Dua Model Gereja: Modality dan Sodality
Dalam membicarakan Gereja di dalam Perjanjian Baru, Ralph Winter
menulis artikel yang sangat menarik. Dalam buku tsb[1], Winter membahas
adanya “The Two Structures of God’s Redemptive Mission”, dua model
Gereja yang menjadi alat di tangan Allah untuk menyelamatkan umatNya.
Winter memulai dengan Synagoge sebagai model yang pertama.[2] Menurut
Winter, model inilah yg kemudian terus berkembang, yg disebutnya
sebagai a congregational structure. Itulah yg kemudian disebutnya
sebagai model Modality. Inilah yg oleh Winter pada umumnya dikenal
sebagai Gereja lokal dalam Perjanjian Baru.
Selain model Modality tsb, kemudian Winter membahas model yg kedua,
yang disebutnya sebagai model Sodality. Mengenai model ini dia menulis:
"There is a second, quite a different structure in the New Testament
context…"[3] Di situlah dia bicara kenyataan hadirnya Paulus dan
teamnya. Memang Winter mengakui bhw sedikit yg kita ketahui ttg
struktur tsb. Tapi team yg kecil tsb disebutnya sbg, "it was also
dependent, from time to time, not alone apon the Antioch church, but
upon other churches…" Untuk tidak meremehkan team pelayanan yg kecil
tsb, kemudian dia menegaskan, "Paul’s team may certainly considered a
structure".
Kelihatannya ada orang tertentu yg kurang mengakui team Paulus tsb
(model sodality). Mengapa? Mungkin karena team penginjilan itu kecil
dan strukturnya tidak jelas. Krn itu, kemudian dia menegaskan: "While
its design and form is not made concrete for us on the basis of
remaining documents, neither, of course is the structure of a New
Testament congregation defined concretely for us in the pages of the
New Test." Saya setuju dengan pernyataan tsb bahwa berdasarkan Alkitab,
kita tidak menemukan bagaimana seharusnya struktur Gereja tsb. Itulah
sebabnya ketika soal bentuk struktur jemaat atau Gereja tidak jelas
ditulis dlm Perjanjian Baru, maka kemudian Winter menulis, "In both
cases, the absence of any such definition implies the preexistence of a
commonly understood pattern of relationship, whether in the case of THE
CONGREGATIONAL structure or MISSIONARY BAND structure…"[4] Jadi
perhatikan kutipan tsb, di mana Winter melihat keduanya sebagai Gereja
dgn pattern yg berbeda. Kedua struktur Gereja itu memiliki pola relasi
yg berbeda (pattern of Relationship), itulah yg dia sebut dgn "THE
CONGREGATIONAL structure or MISSIONARY BAND structure…" Inilah yg
kemudian dia sebut sebagai "the two redemptive structure in the New
Testament Times"[5]
Jadi, pola seperti itu jugalah yg dia bahas ketika kemudian Winter
membahas ttg "The Early Development of Christian Structures within
Roman Culture"[6] Selanjutnya, dia secara eksplisit membahas soal
modality dan sodality pada hal.224.kol.1-226.kol.1. Di sini Winter
kembali membahas dua model dalam Gereja Roma Katolik, yaitu "monastic"
(sodality) dan "diocesan" (modality). Pada bagian tsb, Winter memberi
contoh yg menarik, yaitu Gereja Mennonite dan Bala Keselamatan yg dia
tulis dgn " a ‘pure’ Church, or what is often called a ‘believes’
church".[7] Saya katakan menarik, krn di sini pembahasan ttg Gereja
dengan dua model atau struktur yg disodorkan Winter tdk sepenuhnya
tepat jika diterapkan dgn Gereja tsb. Mengapa? Krn menurut Winter,
struktur Gereja tsb ada sbg campuran antara "modality" dan "sodality".
Winter menulis: "Such a structure stands, in certain sense, midway
between a modality and a sodality since it has the constituency of the
modality (involving full families) and yet, in its earlier years, may
have the vitality and selectivity of a sodality".[8]
III. Karakteristik Modality dan Sodality:

Setelah melihat kedua model tsb di atas, kita dapat melihat
karakteristik dari model Modality dan Sodality. Secara umum dapat
dikatakan bahwa model Modality memiliki karakteristik sbb:
1. Anggotanya umumnya memiliki satu Gereja pada saat yang sama.
2. Anggotanya umumnya memiliki satu Gereja selama hidupnya.
3. Anggotanya umumnya bersifat lokal/territorial
4. Keanggotaannya bersifat inklusif, dari berbagai usia.
5. Bersifat denominasi tertentu.
Sedangkan karakteristik model Sodality adalah:
1. Anggotanya dapat memiliki lebih dari satu sodality
2. Sodality cenderung mengembangkan atau menuntut loyalitas yang kuat.
3. Anggotanya terdiri dari orang-orang yang memiliki loyalitas yang kuat
4. Memiliki visi dan semangat yang kuat
5. Bersifat interdenominasi.
IV. Hubungan antara Modality dan Sodality 
Dalam artikel tsb, kita menemukan kritikan terselubung dari Winter,
yaitu perlakuan tidak fair terhadap model sodality tsb. Hal itu
terlihat jelas dlm halaman2 artikel Winter selanjutnya ketika dia
membahas ttg "The Protestant Recovery of the Sodality" (226-227), dan
"The Contemporary Misunderstanding of the Mission Sodality" (227-229).
Pada bagian recovery dari sodality tsb, Winter kembali mengangkat
sodality melalui peranan Gereja2 yg bertradisi pietis (tradisi
menekankan hidup kudus). "The pietist tradition, in every new emergence
of its force, was very definitely a sodality…comitting themselves to
a new beginnings and higher goals as Christians… "[9]
Kelihatannya Winter yg sedemikian mengangkat Gereja model Sodality tsb
kwatir juga bhw dia disalah mengerti. Karena itu, saya mengerti ketika
di dalam kesimpulan dia membalance pandangannya dgn mengatakan bhw
maksud tulisannya bukan utk meremehkan atau mengatakan bhw model jemaat
lokal (modality) tidak penting. Winter menulis: " The modality
structure … is a significant and absolutely essential structure."[10]
Jadi, ketika orang2 yang menekankan model modality meremehkan model
sodality, kesalahan yang sama harus dihindari, yaitu ketika mereka yang
berada di model sodality tidak lagi bersikap benar terhadap model
modality. Setelah menyebut pentingnya modality tsb, kemudian Winter
menutup artikel tsb dengan kalimat berikut:
"All that is attempted here is to explore some of the historical
patterns which make clear that God, through His Holy Spirit, has
clearly and consistently used a structure OTHER than (and sometimes
instead of) the modality structure."[11] Selanjutnya Winter menyerukan,
"It is our attempt here to help church leaders and others to understand
the legitimacy of BOTH structures, and the necessity for both
structures not only exist but to work together harmoniously for the
fulfilment of the Great Comission…"
Dalam pertemuan IFES sedunia 4-11 Juli 2004 yl di Amsterdam (sy ikut
hadir) memang terus ditegaskan akan komintment terhadap Gereja lokal
(modality). Jadi IFES melihat dirinya sebagai satu kelompok khusus yg
dipanggil oleh Allah utk memenangkan kaum intelektual dunia bagi Allah.
Kelihatannya IFES akan terus melihat model Modality dan Sodality sbg
dua model keteraturan yg sangat baik utk dipelihara. Jadi sekalipun
staf IFES di seluruh dunia (termasuk di Indo) kadang2 dianggap oleh org
tertentu sbg pelayan (hamba Tuhan kelas dua atau kelas berapalah) hal
itu dilihat (termasuk) harga yg harus dibayar dalam penyerahan itu.
okeeee jadiiiiii kesimpulannyaaaaa………….
yahhhhh…………..biarkan Roh kudus yg bekerjaa……..
jgn cm pikiran kita atau…hati kita….saja..
okee
Gbu
Jlu
Hv a Nice day
^__________~!
*sumber:
+ Ensklopedia Perjanjian Lama dan Baru
+ Alkitab terbitan LAI
+ Mangapulsagala
+ vira mail ;p